|

- Posts
- 712
- Location
- Jakarta

|
Last Edited by Zenos on 1-2-2011 11:46
hey - narrator
hey - main character's thinking
"hey" - character speaking
hey - inner character speaking (ex, kyubi)
SIDE STORY
Tragic Love
========================================
50 years ago before the coming of Naruto Uzumaki...
*Veyron : FIRST PERSON VIEW*
FULL NAME : Veyron Saintsun
AGE : 46
GENDER : Male
OCCUPATION : Novice Soldier
JOB OCCUPATION : Berserker
LEVEL (requires minimum 45 levels) : 48
Saya menyerahkan lembar formulir yg sudah diisi ke dalam loket. Seorang bellato Armor Rider level 55 mengambil formulir tersebut dan mengeceknya.
"Veyron Saintsun?" Tanya sang Armor Rider tiba2.
"Y-Yes!" Jawab saya terbata-bata.
"It's my first time seeing a Saintsun want to become a full soldier." Sang Armor Rider memegang dagunya dan mengamati saya.
Saya hanya terdiam saja mendengar nama keluarga disebut-sebut. Saintsun Family adalah keluarga aristrocat yg menguasai teknologi bangsa bellato. Hampir seluruh anggota keluarga selain saya menjadi peneliti dan politikus. Hanya saya satu2nya yg masuk ke kemiliteran dari 5 bersaudara. Awalnya, orang tua saya menentang keras niatku sampai akhirnya saya diusir dari rumah... atau mansion tepatnya. Untung saja kakak tertua berusaha menolong saya dengan memberikan bekal uang Dalant yg cukup besar. Jadi, saya berusaha hidup mandiri dan berkerja di sebuah bar cafe. Selama 5 tahun, saya latihan sendiri menjadi seorang Berserker yg mapan. Tetapi, penampilan fisik saya yg.... dominan feminim... membuat banyak orang meremehkan saya.
Lalu, sang AR mengambil stempel besar dan menstempel formulir saya dengan tulisan besar 'ACCEPTED', "Go to the next post. Next!" Sang AR memanggil giliran berikutnya. Saya mengambil kertas formulir yg dikembalikan dan bergegas keluar dari barisan antri...
"Look a Saintsun...." Tiba2 terdengar orang2 yg sedang membicarakan saya.
"What is he doing here?"
"Maybe he's joining the army."
"A Saintsun is wanna be a soldier?!"
"There's no way a pampered coward can become a soldier."
Saya berusaha menahan emosi dan pura2 tidak mendengar mereka..... Lalu, saya melihat ada keributan di ujung barisan antri.
"HEY! THIS WAS MY PLACE!!" Teriak seseorang.
Saya bergegas melihat apa yg terjadi. Seorang bellato sedang menghadapi 5 orang bellato.
"Your fault, shorty for falling asleep." Ujar salah satu bellato.
"Look! I was daydreaming for a while ok?! I don't want to queue from the last again!!!" Ujar bellato tadi teriak keras.
Rasanya saya pernah kenal dia.... rambut coklat pirang ikat ekor kuda... bekas luka di wajah... pupil mata merah membara... Eben hmm.. Ebenzer kah? Bellato yg terkenal paling sering membuat kericuhan.
"You've got a problem with us?" Ancam salah satu bellato yg berbadan tinggi.
"HELL YEAH!" DUAGHH!! Ebenzer menonjok muka bellato yg tadi mengancam.
"He got a death wish! Beat him!" Teriak temannya.
Orang-orang sekitar menjauh dan tidak ikut campur. Sementara saya juga ikut terdiam dan menonton saja. Lima lawan satu sangat tidak imbang, tetapi Ebenzer tetap bersikeras melawan mereka walaupun dia terjatuh beberapa kali, lalu bangkit lagi.
Setengah jam kemudian....
"It's enough guys.. let's leave. He learned his lesson" Kelima orang bellato tadi pergi meninggalkan Ebenzer yg roboh terkulai di lantai.
Orang-orang sekitar tetap tidak mempedulikan Ebenzer. Luka2 memar menghiasi badannya.
These people are this ignorant bastards? pikir saya. Lalu, saya memberanikan diri menghampiri Ebenzer dan mengecek keadaannya.
"Hey... are you okay?" Tanya saya. Saya mengulurkan tangan untuk membangunkannya.
"Ugh...." Tiba2 Ebenzer membuka matanya dan melihat tepat ke muka saya, "Ah... an Angel?....Am I dead?"
..... Sepertinya keputusan saya salah untuk menolongnya.. Saya mau bangkit berdiri-
Tiba2 Ebenzer menarik tangan saya sehingga saya tertarik mendekati wajahnya-
CHUU
.... Sesuatu yg basah menyentuh bibirku.... Lalu, saya menyadari sesuatu yg menjijikkan....
DUAGHHH!!! Saya meninju wajah Ebenzer.
"Awwww!! Why is there a painful feeling in heaven??!" Ebenzer memegangi pipinya yg memar parah.
"You.. you....!!! YOU FREAKING GAY!!" Berani-beraninya dia... mencuri.. first kiss saya... sesama cowok lagi...
Lalu Ebenzer melihat sekitar... orang-orang pada menonton kericuhan yg terjadi, "Ehhh! I haven't died yet!" Ujar Ebenzer terkejut.
Saya bangkit berdiri, membuat bogem mentah di kedua tangan saya.
Ebenzer melihat saya yg sedang mengamuk, "Hey hey wait I-"
DUAGHH DUAGHHH DUARRRR BLEDARRRR
Beberapa menit kemudian....
"Hey I'm sorry ok?!!!" Ebenzer yg benjol2 berjalan di belakang mengikuti saya.
"...Shut up!" Teriak saya yg berusaha tidak mempedulikannya.
"It's your fault having a girl-like face. I though I saw an angel!"
Kesabaran saya habis, saya menoleh ke arahnya, "DO YOU ALWAYS ACT BERFORE THINK?!!! AND KISSING A GUY NO LESS!"
Sekejap orang2 sekitar menoleh ke kami.
"Not too loud please..." Bisik Ebenzer.
Orang2 mulai berbisik..
"Hey see those two guys."
"Have I heard wrong? He kissed a guy?"
"I heard they were kissing each other in front of Military Conscription Building."
"Aww gross!"
"Oh young love... between boys!"
Pipi saya memerah karena malu luar biasa. Saya bergegas berjalan cepat diikuti oleh Ebenzer, "Don't follow me! Freako!" Saya mulai berlari.
Ebenzer juga ikut lari, "Wait! I just want to talk!"
Sejam kemudian.....
Hos hos hos hos... Saya menyender ke tembok bangunan dan menarik nafas, "Stop following me you stubborn freako!" Ujar saya menoleh ke belakang.
Ebenzer juga kelelahan berlari mengejar saya, "I just want to say thank you..."
"Huh?"
Ebenzer menarik napas dalam2, "You were gonna help me right?" Lalu, ia membungkuk, "I'm sorry that I act before think!! Please don't misunderstand me."
Saya terdiam sejenak.
"Since long time ago, no one want to help me or even notice me. You were the first person to notice me...." Ujar Ebenzer dengan tulus.
..... Saya tahu bahwa Ebenzer tidak memiliki orang tua dan dibesarkan di panti asuhan. Saya juga tahu bahwa dia selalu membuat keributan untuk mendapatkan perhatian orang2.
"It's... okay. I did what I must do." Jawab saya.
Lalu Ebenzer kembali berdiri tegak, "Can we be friends?"
... Mungkin... hanya untuk saat ini... saya bisa mentoleransi perbuatannya, "All right, let's be friends."
Raut wajah Ebenzer terlihat senang "What's your name?"
"Call me Veyron or Vey for short."
"Ok Vey, my name-"
"I know you, Ebenzer, you are a famous prankster."
Ebenzer terlihat lebih senang lagi.
Maybe this is not so bad after all... Pikir saya.
=============================================
20 tahun kemudian.....
Sejak saya dan Ebenzer pertama kali bergabung ke kemiliteran bellato, kami telah melakukan banyak hal yg membuat banyak orang kagum terutama kekompakan kami. Saking kompaknya, kami mendapat julukan The Deadly Duo karena musuh apa pun tidak bisa berkutik melawan kami.
Suatu hari di sebuah barrack yg didirikan di sebuah markas garis depan pulau Elan. Kami sedang mengobrol dan bercanda.
Tiba2 seorang bellato perwira atasan datang ke barrack kami.
Kami segera bangkit berdiri tegak dan hormat ke atasan, "Sir!"
"At ease, soldiers."
Kami mengambil sikap istirahat.
"Come here, lieutenant Silvana." Ujar sang atasan. Lalu, di balik pintu barrack, muncul seorang perwira wanita. Rambut yg diikat selayaknya seorang prajurit wanita (style rambut seperti Tenten, tetapi hanya 1 bun-nya).... wajah yg atraktif, tetapi mematikan.... pupil mata warna kuning keemasan yg dalam. Wanita ini memiliki aura tanggung jawab besar bagaikan seorang prajurit yg sudah melalui banyak medan perang.
"My name is Silvana Ravenous at your service." Ujar Silvana.
"Our higher-ups's order to include lieutenant Silvana into your famous team. That's all." Lalu, perwira atasan pergi meninggalkan barrack dan meninggalkan kami bertiga.
.....
.....
.....
Ebenzer memecahkan keheningan, "All right! We've got a new member!" Lalu ia langsung memegang tangan Silvana dan menciumnya, "What's your name, sweety?"
Veyron geleng2 kepala melihat sifat playboy Ebenzer muncul lagi di depan wanita atraktif.
Silvana terdiam sejenak... dan menjawab, "I'm not interested in your flirting. Please don't touch me or you will suffer the sequences." dengan suara datar.
Ebenzer mengerutkan dahi dan melepas tangan sang prajurit wanita.
"Okay, why don't you sit here and tell us about you." Ujar Veyron.
Silvana mengangguk dan duduk di atas kursi plastik kosong, "My name is Silvana Ravenous as you have known it just now. I'm a Holy Chandra with power level, 60."
....
"Tell us about your 3 sizes-" Sembur Ebenzer.
"Shut up, Eben!... Hobbies? What you like and dislike?" Tanya Veyron.
"There is no need to me to answer anything irrelevant to our combat capability." Jawab Silvana dengan datarnya.
..... Wow this woman is so rigid pikir saya.
Wow a hard nut to crack! pikir Ebenzer dilihat dari mimik wajahnya yg mudah dibaca.
"That's acceptable. Welcome to our team, Silvana." Sambut saya.
"... Thank you." Ujar Silvana dengan suara kecil, "First of all, I need both of your battle data."
Setengah jam kemudian, saya dan Ebenzer berada di luar barrack, sedangkan Silvana masih di dalam barrack menganalisa data kemampuan battle kami berdua.
"Vey, that woman is sooooo stiff and not friendly!!" Protes Ebenzer.
"Well you are tooooo friendly and easygoing for a soldier." Balas saya.
"But, did you see underneath her thick clothes??! Perfect sizes-"
"Don't talk anymore." Potong saya.
Lalu, Silvana keluar dari barrack dan memanggil kami berdua.
"I have analyzed them and found an alternative to increase our performance in the future." Ujar sang HC.
"We will hear you out inside. Let's go Eben!"
Ebenzer memasang raut muka bete , "Yeah yeah.... I'm so bored..." dan berjalan malas-malasan masuk ke dalam barrack.
Kemudian, saya melangkah masuk ke dalam barrack, tapi sebelum masuk sepenuhnya, saya menoleh ke belakang dan melihat Silvana masih berdiri diam.
Saya tersenyum dan memangillnya, "What are you doing? Come inside."
Silvana hanya mengangguk saja.
"And by the way.... thank you." Ujar saya yg tidak menyadari Silvana agak tersipu malu.
=========================================
Setahun kemudian, kami bertiga dikirim ke Gunung Buas untuk giliran tugas patroli.
Di dalam tenda yg cukup besar untuk kami bertiga, Silvana termenung memperhatikan lampu lentera di depannya.
Saya bertatapan dengan Ebenzer dan saling mengangguk, "Now!" Bisik saya.
Kami berdua bangkit berdiri dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang punggun dan melangkah perlahan-lahan ke arah Silvana.
Menyadari gerak-gerik kami berdua, Silvana mengawasi saya dengan tatapan yg mencurigakan, "What are you doing?" Tanya Silvana.
Kami melangkah semakin maju dan berhenti tepat di depannya. Silvana bangkit berdiri, "Something happened?"
"TADA!!!" Saya dan Eben mengeluarkan kado masing2 yg dibungkus dengan kertas berwarna-warni dah diikat dengan sebuah pita merah ke Silvana.
Silvana terlihat terkejut, ekspresi yg tidak biasa pada wajahnya yg hampir tidak pernah menampilkan emosi, "Gift?... For what?.."
"We are celebrating the day you were admitted to our team." Jawab saya.
"Such an occasion.." Silvana menerima 2 buah kado dari kami berdua. Lalu, tanpa basa-basi, Silvana membuka kado dari Ebenzer.
..... Ebenzer memberikan hadiah berupa pin rambut yg berbentuk kupu2.
"You'll be more beautiful than ever!" Ujar Eben sambil mengacungkan jempol.
Kemudian, Silvana meletakkan pin rambut ke atas meja dan membuka hadiah dari saya.
"This is...." Silvana memegang sebuah boneka... beruang coklat kecil yg lucu.
"A doll? Hey Vey, I think a doll is too out of character for a stern woman like her." Ujar Eben.
"That's not true." Lalu saya menatap Silvana sambil tersenyum, "Day before yesterday, I caught you were looking into a doll shop. I thought you are gonna like it, so I bought it secretly."
Silvana terdiam sejenak dan perlahan-lahan memeluk boneka beruang.... mulut Silvana membentuk senyuman, "...Thank.. you everyone."
Kami berdua agak terkejut melihat Silvana tersenyum untuk pertama kalinya setelah 1 tahun.
Even Silvana has her soft side... pikir saya.
Dua jam kemudian, Ebenzer tertidur pulas dan saya mendapat giliran jaga malam. Hawa udara yg dingin memaksa saya duduk diam di depan api unggun. Tiba2 saya mendengar langkah kaki dari arah tenda. Saya menoleh dan melihat Silvana yg keluar tenda sambil memeluk bonekanya. Rambut hitam gelap Silvana tergerai lurus beberapa centimeter di bawah bahu. Ia terlihat semakin cantik disinari oleh sinar bulan malam.
Kemudian Silvana ikut duduk di samping saya...
"Hey Veyron.." Ujar Silvana memulai pembicaraan, "Can you listen to me?"
"For my teammate, I have more time than the world ever be." Jawab saya bercanda.
Silvana tersenyum, "Thank you, Veyron...." Raut wajah Silvana menjadi agak murung, "If.. you were born to bear a great responsibility to your family, would you have the will to bear it?"
..... Saya tahu apa yg Silvana ingin bicarakan. Keluarga Silvana, Ravenous Family merupakan kebalikan dari Saintsun Family. Bila keluar Saintsun berkutat pada penelitian dan teknologi, maka keluarga Ravenous berkutat pada kemiliteran bangsa bellato di mana semua pewaris harta keluarga harus atau wajib menjadi prajurit dan mengharumkan nama keluarga.
"Since I was a kid... I hate violence... I hate killing people no matter what they are... I... just want a normal life. But, I have my own responsibility for the family. So, I was trained hard and merciless... I didn't have time for childish thing like this bear."
Benar... saya sendiri juga memikul tanggung jawab yg dibebankan ke saya oleh keluarga saya sendiri, "Yes.. I was like you too. My parents forced me an unfair responsibility."
"To become a soldier?"
"No... actually they want me to become either a researcher or a politician."
Silvana terkejut, "How.. did you go againts your parent's will?"
"Well I was just too stubborn and finally they kicked me out."
Silvana makin terkejut, "That is.. crazy."
"Haha... But thanks to my oldest brother, he gave me money to survive alone."
Raut wajah Silvana semakin murung, "I wish I had a stubborn will like you..."
"But, you have us! I and Ebenzer, you don't have to bear the burden alone!" Ujar saya berapi-api, "At least take your stress out to Eben, not me, kay?"
Silvana terbengong, lalu tertawa kecil, "Both of you are so compatible each other."
"Ehh?? Compatible?? Who said we are compatible? Since he kissed- ops" Saya kebablasan ngomong.
"Huh? Kiss?... I've got it, that was so unexpected."
"Hey! You are misunderstanding something!" Lalu saya menceritakan kejadian sebenarnya tentang saya dan Ebenzer... tentang 'accidental first kiss'
Raut wajah Silvana menjadi agak aneh....," Pfft... HAHAHAHA!" sang prajurit wanita tertawa terbahak-bahak, "He-He stole your first kiss!!" Ujar Silvana yg mulai menangis menahan tertawa.
Wow... Silvana ketawa.... ekspresi yg sangat langka disaksikan oleh saya sekarang. Sayang si Eben tidak bisa melihat sesuatu yg menakjubkan ini.
"All right, that's not funny." Ujar saya ngambek.
"Sorry haha... But, I think that was a destiny."
"I'd curse destiny if that accidental kiss was decided from beginning."
"But, if you didnt help him when he was beaten on the floor, he would be an average soldier or even a nobody by now."
"That's true..."
"And If I wasn't forced to become a soldier by my family.... I would never meet you, Veyron." Ujar Silvana dengan lembut.
"Eh?...." Detakan jantung saya semakin kencang.
Tiba2 Silvana menarik kerah seragam tentara saya-
CHUUU
Sesuatu yg lembut menyentuh bibir saya.....
Beberapa detik kemudian, Silvana melepaskan kerah seragam saya dengan pipi merah padam, "Look I stole your second kiss!" Ujar Silvana yg malu berat dan tidak berani bertatapan mata dengan saya.
"Anyway.. good night!" Silvana buru2 bangkit berdiri dan masuk ke dalam tenda....
Keesokan harinya, setiap kali saya dan Silvana bertatap mata, kami langsung menoleh ke arah lain. Ebenzer menyadari tingkah laku kami yg aneh
"Did I miss something?" Ujar Ebenzer yg penasaran.
"Shut up!" Tiba2 saya dan Silvana menjawab serentak.
"Huh?" Ebenzer menggaruk-garuk kepalanya.
============================================
20 tahun kemudian.....
Team Veyron dikirim ke garis depan medan perang Great Chip War ke-6. Perang massal yg terjadi 50 tahun sekali yang memakan ratusan korban di ketiga pihak.
DUARRRR!! BOOOMMM!!!
Kami bertiga tiarap dan berlindung dari hujan launcher jarah jauh accretia. Melihat keadaan yg sangat berbahay bagi mereka ini... mungkin tidak ada kesempatan lagi.
I must ask her... maybe this is my only chance pikir saya.
Kemudian saya merangkak ke samping Silvana, "Silvana... can I ask you something."
Silvana menoleh ke saya, "Yes?"
Saya mengeluarkan sebuah kotak cincin dari kantong armor berserker saya.
"This is..." Silvana menyadari sesuatu.
Lalu saya membuka kotak tersebut memperlihatkan cincin silver yg indah, "Will you marry me?"
Silvana terkejut dan terdiam sejenak.
"I know I'm proposing in the wrong place and at the wrong time... But, I'm afraid of what may happen to us... will never give me the chance I'm dying for-."
"Yes, I accept." Potong Silvana.
"Really?!"
"Of course dummy!" Silvana tersenyum.
Lalu saya memegang tangan kiri Silvana dan mengenakan cincin perkawinan di jari manisnya.
"I, Veyron Saintsun, take you, Silvana Ravenous, to be my wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honor you all the days of my life"
"I, Silvana Ravenous, take you, Veyron Saintsun, to be my husband, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health."
Lalu kami mengucapkan bersama-sama, "Until the death do us apart."
Lalu saya mencium Silvana di bibir, menandai ikatan perkawinan antara kami berdua.....
Di belakang Silvana, saya melihat Ebenzer yg menatap mata saya dengan mimik wajah yg tidak bisa kubaca. Tiba2 cahaya menyilaukan muncul di depan-
"WATCH OUT!!" Teriak Ebenzer.
Saya dengan reflek menggendong Silvana dan meloncat menghindari-
DUARRRRRRRRRR!!! Ledakan dahsyat membentuk kawah di posisi kami tadi.
Kemudian, kami bertiga mengambil posisi masing2 menghadapi sebuah sosok raksasa di depan mereka.
"No.. it can't be" Ujar Silvana yg hampir tidak percaya dengan apa yg dia lihat.
"Satetsu!!!" Teriak Ebenzer.
Satetsu menampakkan dirinya dengan mata merah menyala, "What I've got here, the Deadly Duo and a puny bellato girl." Ujar Satetsu dengan suara berat.
"We must run, Vey!" Ujar Ebenzer yg agak panik.
"No! We must fight!" Teriak saya.
Sang accretia mengeluar bilah pedang samurainya, "Come on! I want a challenge!"
Lalu kami bertiga menerjang Satetsu...
===============================================
Setengah jam kemudian,
"Is that it?!" Ujar Satetsu, Aw.. I overestimate you guys. Deadly Duo is so weak."
Sang accretia melangkah maju menuju saya, Shit! I don't have energy left. Saya merogoh kantong celana dan mengeluarkan bom asap-
"METEOR!" Silvana menyerang Satetsu dengan forcenya.
Satetsu tidak bergeming sama sekali, "The *sensor*! Maybe I should kill you first. Flash Step" Satetsu menghilang dari pandangan dan muncul tepat di depan Silvana.
"!!! KYAAA!" Satetsu mencekik leher Silvana dan mengangkat badannya ke atas.
"Silvana!!! Let her go!!!" Teriak saya.
Ebenzer berusaha bangkit berdiri, tetapi terjatuh lagi.
"Hmm... is this so called 'affection'?" Ujar Satetsu dengan dinginnya.
"You want me right??! Just kill me, but don't kill her!!!" Teriak saya yg begitu desperatenya memohon sang accretia.
"Hmm.... killing Deadly Duo will cripple Bellato's morale..."
"Please!!" Saya sudah melupakan segala harga diri.
.....
.....
Satetsu diam sejenak.... ,"No."
*jleb* sang accretia menusukkan pedangnya tepat di dada Silvana. Darah mencuat dari dada Silvana...
........
.......
Darah mengucur sekujur badan Silvana sampai akhirnya menetes di ujung jari kaki ke lantai.
Silvana menatap mata saya dan mengumpulkan tenaga terakhirnya untuk mengucapkan sesuatu dengan bahasa bibir.....
I'm happy I can be your wife, although it's only for a... while...
Live... on....
Silvana menghembuskan nafas terakhirnya...
*END OF VEYRON'S FIRST PERSON VIEW*
*Ebenzer : FIRST PERSON VIEW*
"No...." Saya melihat Veyron yg sangat shock.
"I heard losing your loved ones will make you very powerful." Ujar Satetsu, "So hate me and come back when you can give me a real challenge...."
Satetsu dan mayat Silvana menghilang perlahan-lahan di balik asap2 ledakan.
"No... NOO!! *sensor* I'LL KILL YOU! KILL KILL KILL KILL KILLL-KILL-" Veyron bangkit berdiri dan berusaha mengejar Satetsu-
Saya mengejarnya dan menahannya, "Vey!! Wake up!!"
"LET ME GO!!" Veyron semakin gila dan hilang kontrol diri.
"LET ME GO!!!! I'M GONNA KILL HIM KILL HIM!!"
"It's over, Vey!"
"*sensor* YOU!!! YOU WON'T UNDERSTAND THE *sensor*-"
DUAGHH!! Saya menonjok wajah Veyron dengan keras hingga ia jatuh ke tanah, "... Do you think I don't understand anything?"
Veyron segera bangkit berdiri dan menarik kerah seragam saya, "I LOVE HER FOR GOD'S SAKE-"
"SO DO I!!!!" Teriak saya
Veyron terlihat terkejut dan melepaskan kerah saya, "DO YOU THINK I DIDN'T SEE SHE KISSED YOU AT THAT NIGHT 20 YEARS AGO??!! DO YOU THINK I DIDN'T SEE YOU AND HER GO LOVELY DOVEY ALL THE TIME?!!! I FEEL THE SAME WAY YOU DO!!! SHE DIED!! SHE DIED!! ONCE AGAIN SHE DIED!! WHAT CAN WE DO ABOUT IT? THROWING AWAY OUR LIFE??" Teriak saya yg sudah muak.
"I...I..." Veyron berusaha mengucapkan sesuatu.
"Look! It's so painful for me to see her choosing you over me! Even I proposed to her years ago without your knowing." raut wajah saya menjadi sedih, "And of course I got rejected..."
"And again I saw you proposing to her in front of my own eyes.... and I thought you were my friend...."
"I... I'm sorry... It's all my fault..." Ujar Veyron yg menggigil.
".... Just get up and start walking!" Ujar saya dengan kesalnya.
============================================
Beberapa minggu kemudian.... di sektor permakaman.
Kami berdua berdiri di depan sebuah nisan...
...
OUR BELOVED
Silvana Ravenous
4631-4732
...
Veyron berlutut dan meletakkan sebuket bunga di depan nisan...
"Ebenzer... Let's change our way...." Ujar Veyron
"...."
"To kill him...."
".. Revenge is not always the best choice, Vey..."
"I don't care... I will sell my soul to the deepest pit of hell by any means if that will help me avenge my wife..."
"To let you know... I will be on your side no matter where you go."
Veyron bangkit berdiri, "Let's go..."
*END OF EBENZER'S FIRST PERSON VIEW*
=======================================
Seiring waktu berlalu, Veyron membuang nama keluarganya dan mulai berubah menjadi prajurit yg sempurna dan berdarah dingin. Sedangkan, Ebenzer masih memilki sifat yg sama. Mereka bersumpah untuk mengincar dan menumpaskan Satetsu, mercenary Accretia yg melegenda.
======================================
END OF SIDE STORY!
THX FOR READING!
|
|